Anita Yun

Anita Yun lahir dan melewati masa kanak-kanak di sebuh kampung pesawahan di Kabupaten Bogor. Melewati masa remaja hingga dewasa di daerah industri Bekasi....

Selengkapnya
Navigasi Web
Emak dan Teh Tawar Melati
from google

Emak dan Teh Tawar Melati

Teh tawar aroma melati sering membangkitkan kenanganku akan emak, emak adalah Nenek dari pihak umi. Wanita tua yang waktu itu mungkin sudah berumur 70an, yang tak pernah lelah bekerja. Di usianya yang senja, dia masih berkutat di dapur dan di depan warungnya. Menyajikan sarapan untuk mereka yang akan pergi ke sawah. Ya, emak membuka warung sarapan yang menjual nasi uduk dan lontong di tengah sawah.

Rumah emak dan abah memang berada sedikit jauh dari perkampungan, merupakan jalur lalu lintas bagi mereka yang ingin pergi ke sawah. Jadi siapa pun yang akan pergi ke sawah yang melewati warung emak akan singgah di warung emak untuk sarapan. Jadi setiap habis subuh aku akan ke warung emak, numpang sarapan yang pertama, selain itu aku punya tugas, mengambil nasi uduk pesanan uwak ku, atau siapa saja yang menitip padaku. Kenapa mesti pagi buta aku pergi ke rumah emak di mana kondisi jalan masih gelap gulita? Karna uwak akan ke pasar untuk belanja, uwak punya warung klontong. Jadi sebelum berangkat ke pasar, sarapan sudah harus sampai di rumah uwak. Untuk itu, uwak akan memberimu upah, 1500 upahnya, cukup banyak pada zaman itu. Aku bisa menabung 1000 dan cukup jajan dengan 500 perak. Tapi kadang tidak ku tabung, tapi ku bagi dengan tetehku. Dengan uang itu umi tidak perlu memberi uang jajan sekolah aku ataupun tetehku.

Kembali lagi ke aroma teh tawar melati. Di warung emak tidak menyajikan air putih, tetapi teh tawar melati bubuk kasar merk Cap Jempol yang disajikan dalam poci besar. Pelanggan tinggal ambil gelas untuk meminumnya. Teh tawar hangat diminum setelah menghabiskan sarapan, sangat nikmat di tenggorokan, dan nyaman di perut.

Setelah sarapan dan nasi uduk uwak sudah selesai dibungkus, aku akan meninggalkan warung emak, sebelum itu, emak akan menyisipkan uang gopean ke tanganku, buat tambahan jajan katanya, dan itu hampir setiap hari dilakukannya. Aku merasa sangat kaya dengan uang 2000 yang ku peroleh setiap harinya. Belum lagi jika pulang sekolah emak akan memberikanku tugas jualan keliling. Biasanya setelah jualan sarapan emak habis, emak akan kembali ke dapur dan membuat papais atau buras. Papais itu serupa lemet, kue yang terbuat dari tepung beras yang diisi pisang atau inti kelapa dan dibungkus daun pisang. Sedangkan buras semacam arem-arem, lontong yang dibungkus daun pisang dan sebagai isiannya adalah oncom yang ditumis pedas terlebih dahulu.

Nah, aku akan berjualan keliling kampung setelah pulang sekolah, emak bilang harga dari dia 100 rupiah perbuah, aku boleh menjualnya 150 rupiah. Aku untung 50 rupiah tiap 1 buah papais atau buras. Kalau ada 50 buah yang terjual, maka penghasilan ku 2500 rupiah, nah emak yang terlalu baik pasti akan memberiku tambahan lagi, bisa 3000 sampe 3500 uang yang aku kantongi hasil berjualan keliling. Sumpah, masa itu, uang 3500 sudah sangat banyak. Aku bisa jajan baso 4 mangkok kalau mau, tapi si pelit ini, mana mau jajan banyak-banyak. Uangnya aku tabung untuk lebaran, kalau-kalau kepingin jalan-jalan ke Kebon Raya Bogor bareng temen-temen.
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Salam kenal juga mas Zul Andris. Iya di kampung saya dulu minum teh tawar itu udah kaya minum air putih setiap hari.

14 Jan
Balas

Jadi ingat teh buatan emak di kampung... He he he... Salam kenal mbak anita

14 Jan
Balas
search